Rabu, 09 Oktober 2013
SEBERAPA KESIAPAN GURU TERHADAP KURIKULUM 2013
Kualitas pendidikan di Indonesia nampaknya semakin hari semakin memprihatinkan. Betapa tidak, berdasarkan analis dan hasil survey dari badan pendidikan dunia UNESCO, terhadap kualitas pendidikan di negara-negara berkembang di Asia Pacific, Indonesia menempati peringkat 10 dari 14 negara. Sedangkan untuk kualitas guru berada pada level 14 dari 14 negara berkembang alias buncit ( bahasa Jawa). Posisi tersebut menempatkan negeri agraris ini dibawah Vietnam, negara yang baru merdeka beberapa tahun lalu. Sedangkan untuk kemampuan membaca, Indonesia berada pada peringkat 39 dari 42 negara berkembang di dunia. Salah satu faktor rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia adalah karena kurangnya kemampuan guru dalam menggali potensi anak. Para pendidik seringkali memaksakan kehendaknya tanpa pernah memperhatikan kebutuhan, minat dan bakat yang dimiliki siswanya. Pendidikan seharusnya memperhatikan kebutuhan anak bukan malah memaksakan sesuatu yang membuat anak kurang nyaman dalam menuntut ilmu. Pendidikan yang baik adalah memberikan kesempatan pada anak untuk kreatif. Itu harus dilakukan sebab pada dasarnya gaya berfikir anak tidak bisa diarahkan. Selain kurang kreatif, para guru dalam membimbing siswa, kurikulum yang sentralistik membuat wajah pendidikan kita semakin buram. Kurikulum hanya didasarkan pada pengetahuan pemerintah tanpa memperhatikan kebutuhan masyarakat. Lebih parah lagi, pendidikan tidak mampu menghasilkan lulusan yang kreatif. Hal ini disebabkan antara lain, kurikulum dibuat di Jakarta dan tidak memperhatikan bagaiman kondisi masyarakat bawah. Sehingga, para lulusan hanya pintar cari kerja dan tidak pernah bisa menciptakan lapangan kerja sendiri, padahal lapangan kerja yang tersedia terbatas. Kualitas pendidikan Indonesia sangat memprihatinkan. Lemahnya input quality, kualitas guru kita ada diperingkat 14 dari 14 negara berkembang. Ini juga kesalahan negara yang tidak serius untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Dari sinilah mari kita “guru” renungkan, mengapa ini bisa terjadi. Kapan kita bangkit dari keterpurukann ini, apalagi pemerintah sebagai pemangku kepentingan ( pendidikan) telah mencanangkan Kurikulum baru yakni kurikulum 2013, sudahkah semua tenaga pendidik kita siap, dan mampu? Bagaimana jika jawabannya belum? Tampaknya pemerintah tidak mau ambil peduli tentang hal ini. Namun harapan ke depan Kurikulum 2013 mampu meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Semoga
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar